
It’s not things that trouble us, but our judgement about things.
~ Epictetus
Berbeda dengan esai-esai sebelumnya yang kebanyakan membahas topik bertema kontemplatif, kali ini agaknya kita berbicara secara santai saja sebagai sesama pecinta buku. Rasanya ingin sekali berbagi pengalaman dan sudut pandangku menjadi pegiat literasi selama beberapa tahun terakhir. Terlebih, sejak aku memutuskan untuk melanjutkan studiku di bidang bahasa dan sastra Indonesia, yang mana tentunya setiap hari aku berkecimpung dengan tulisan, buku, dan seluk beluk kesusastraan Indonesia. Dan sebelum melangkah lebih jauh, sedikit aku sampaikan bahwa ini hanyalah ulasan singkat dari sudut pandang pribadiku mengenai buku yang sangat melejit pada tahun 2019, tak lama setelah diterbitkan pada akhir tahun 2018. Buku ini bernama “Filosofi Teras” karya Henry Manampiring.
Jika dilihat dari luar, buku ini dianggap sebagai bacaan berskala berat. Bukan tanpa alasan, karena dari judulnya saja sudah tertulis kata “filosofi”. Dan bagi sebagian orang, mungkin filosofi atau filsafat merupakan pembahasan yang mendalam mengenai topik tertentu. Akan tetapi, tidak mengurungkan niatku untuk membeli buku ini. Pada waktu itu, aku masih duduk di bangku SMA ketika mengenal buku tersebut. Usia-usia yang masih dianggap belum sepenuhnya dewasa, tetapi di situlah titik awal takdir mengubah hidupku hanya berawal dari sebuah buku. Kedengarannya menarik. Tentunya, karena banyak sekali pembahasan yang menurutku masih relevan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Maka dari itu, buku Filosofi Teras ini menjadi daftar pertama yang aku ulas dari sekian banyak buku yang telah aku baca.
Berbicara mengenai buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring ini, pengalaman pertama yang aku rasakan ketika membaca buku ini adalah aku seperti ngobrol dengan kakak yang sabar tapi cerdas. Buku ini membahas tentang filsafat Stoa atau Stoisisme, tapi tenang saja, bacaannya tidak berat dan tidak bikin pusing. Justru di dalamnya dijelaskan dengan bahasa yang ringan, penuh contoh sehari-hari, bahkan ada meme dan ilustrasi yang bikin kita senyum-senyum sendiri. Jadi walaupun topiknya filsafat, rasanya tetap dekat dengan kehidupan kita. Hal tersebut sangatlah kontras dengan judul bukunya, karena kesan pertama yang aku tangkap buku ini termasuk golongan bacaan berat, tetapi nyatanya tidak.
Inti dari buku ini sebenarnya simpel sekali: tidak semua hal bisa kita kontrol. Yang bisa kita kontrol cuma pikiran dan respons kita sendiri. Konsep ini diambil dari ajaran Epictetus, seorang filsuf Yunani kuno yang mengajarkan konsep dikotomi kendali. Dari sini, kita diajak untuk lebih santai menghadapi drama hidup, entah itu masalah percintaan, kerjaan, atau overthinking tengah malam. Dan secara logika, buku ini masih sangat relevan bagi kaum muda masa kini yang sering mengalami burnout.
Yang bikin buku ini relate sekali bagiku adalah contoh-contoh modernnya. Misalnya soal nyinyiran orang, gagal rencana, atau ekspektasi yang tidak sesuai kenyataan. Kita diajak untuk sadar kalau sering kali yang bikin stres itu bukan kejadiannya, tapi pikiran kita sendiri yang kebablasan. Jadi, buku ini mengajarkan kita untuk “rem” pikiran kita sebelum makin liar ke mana-mana.
Selain itu, Filosofi Teras juga mengajarkan kita dalam mengelola emosi. Bukan berarti kita harus jadi orang yang dingin dan tidak punya perasaan, ya. Tapi lebih ke belajar mengenali emosi, lalu memilih respon yang bijak. Jadi marah boleh, sedih boleh, tapi jangan sampai emosi yang mengatur hidup kita. Kita yang pegang kendali.
Menariknya lagi, buku ini nunjukin kalau ajaran Stoa itu masih relevan sekali di zaman sekarang. Walaupun tokohnya hidup ribuan tahun lalu seperti Marcus Aurelius, tetapi prinsipnya tetap bisa kita pakai untuk menghadapi kehidupan modern yang serba cepat dan penuh tekanan. Ternyata, kebijaksanaan lama tidak pernah benar-benar basi.
Secara keseluruhan, buku ini cocok sekali untuk siapa pun yang sering overthinking, gampang kepancing emosi, atau lagi pengen belajar jadi versi diri yang lebih tenang. Tidak perlu jadi anak filsafat dulu untuk paham isinya. Justru, buku ini terasa seperti pintu masuk yang ramah untuk kenal dunia filsafat tanpa takut mumet.
Menurutku, Filosofi Teras itu bukan cuma buku teori, tapi lebih ke buku latihan mental. Setelah baca, kita tidak langsung jadi manusia paling stoik sedunia, tapi setidaknya kita jadi lebih sadar dengan pikiran kita sendiri. Dan kadang, kesadaran kecil itu sudah cukup untuk bikin hidup terasa lebih ringan dan tidak terlalu ribet. Tentunya, terkadang sebagai manusia kita tidak lepas dari hilang kendali, tetapi proses recovery emosi setiap oranglah yang menjadi pembeda, antara satu orang dengan yang lainnya.
Mungkin kurang lebihnya seperti itu, dari sini bisa kita simpulkan bahwa, sesuatu yang kuno belum tentu tidak sesuai dengan masa kini. Ada beberapa hal, yang memang masih bisa kita contoh dan teladani dari pemikiran orang-orang di masa lampau. Dan sebagai penutup, aku selipkan satu kutipan lagi, yang mana kutipan ini adalah kutipan favoritku dalam buku tersebut.
Tidak ada peristiwa yang betul-betul “kebetulan”.
~ Henry Manampiring

