Review Buku Hati Suhita

Perempuan berwatak menjangan ketawan adalah serupa menjangan yang terluka. Kalau ada seseorang atau sesuatu menyakitinya, dia tidak akan pernah membalas. Dia juga tidak akan menyerang balik. Dia hanya akan berlari sejauh-jauhnya. Membawa seluruh luka dan air matanya.

Menjangan ketawan tidak punya dendam. Tapi ia akan menjaga jarak sejauh-jauhnya dari siapapun yang pernah menyakitinya.

Menjangan ketawan memang tidak melawan. Tapi kalau terluka, dia akan pergi dan tak akan pernah mau kembali.

Aku bukan ratu. Akulah menjangan yang terluka dan ingin berlari sejauh-jauhnya.

     Kadang aku merasa bahwa tidak semua cerita cinta harus dimulai dengan sesuatu yang indah dan sempurna. Dalam kehidupan nyata, cinta justru sering datang dengan cara yang tidak terduga, ritme yang pelan, penuh keraguan, bahkan kadangkala menyisakan rasa sakit. Namun, justru dari proses itulah sebuah kisah terasa lebih jujur dan nyata. Perasaan seperti itulah yang aku rasakan ketika membaca novel Hati Suhita karya Khilma Anis.

     Dari halaman pertama, aku langsung merasa seperti diajak masuk ke suasana cerita yang tenang, sedikit sendu, tapi tetap hangat. Penulis juga tidak langsung menyajikan kisah cinta yang manis dan penuh kebahagiaan. Justru, ceritanya lebih fokus ke perjalanan hati yang harus belajar menerima keadaan, memahami perasaan sendiri, dan pelan-pelan berdamai dengan kenyataan yang tidak selalu sesuai harapan. Karena itu, menurutku cerita di buku ini terasa dekat sekali dengan kehidupan. Banyak orang mungkin pernah ada di posisi yang sama, seperti mencintai dengan sabar, menunggu dalam diam, dan akhirnya sadar kalau cinta memang tidak selalu datang dengan cara yang mudah.

     Tokoh utama dalam cerita ini adalah Alina Suhita, seorang perempuan yang tumbuh dan dibesarkan di lingkungan pesantren. Ia dikenal sebagai sosok yang lembut, santun, dan sangat menjaga adab dalam bersikap maupun berbicara. Sejak kecil, Suhita sudah terbiasa hidup dengan nilai-nilai kesopanan dan kesabaran yang kuat. Ia kemudian menikah dengan Gus Birru, putra dari keluarga pesantren terpandang, melalui sebuah perjodohan yang telah disepakati oleh kedua keluarga mereka.

     Namun, pernikahan itu tidak dimulai dari kisah cinta yang tumbuh secara alami. Hubungan mereka lebih banyak didasarkan pada keputusan keluarga besar dan harapan orang tua. Di sinilah konflik dalam cerita mulai terasa. Setelah menikah, Suhita harus menghadapi kenyataan bahwa Gus Birru belum sepenuhnya membuka hatinya untuknya. Sikap Gus Birru yang masih menjaga jarak membuat Suhita harus menjalani pernikahan yang tidak mudah, karena ia mencintai suaminya sementara perasaan itu belum sepenuhnya terbalas.

     Sementara itu, Gus Birru digambarkan sebagai sosok laki-laki yang cerdas, berwawasan luas, dan memiliki pendidikan yang tinggi. Ia tumbuh dalam lingkungan pesantren, tetapi juga memiliki cara berpikir yang cukup modern. Banyak orang memandangnya sebagai pribadi yang pintar dan berkarisma. Namun ketika berbicara tentang perasaan, Gus Birru justru terlihat rapuh. Ia masih terjebak pada kenangan masa lalunya dan belum benar-benar bisa melepaskan perasaan yang pernah ia miliki sebelumnya.

     Karena itulah, ia belum sepenuhnya menerima pernikahannya dengan Suhita. Pernikahan yang terjadi karena perjodohan membuatnya merasa seperti menjalani sesuatu yang belum siap ia jalani dengan sepenuh hati. Di awal cerita, sikapnya terhadap Suhita terasa sangat dingin dan penuh jarak. Ia tidak benar-benar bersikap kasar, tetapi juga tidak menunjukkan kedekatan sebagai seorang suami. Hubungan mereka pun terasa kaku, seolah dua orang yang hidup dalam satu rumah, tetapi sebenarnya berada di dunia yang berbeda. Situasi inilah yang kemudian membuat perjalanan rumah tangga mereka dipenuhi dengan pergulatan perasaan yang tidak sederhana.

     Salah satu hal yang membuat cerita ini terasa kuat adalah konflik batin yang dialami para tokohnya. Konfliknya tidak ditampilkan lewat pertengkaran besar atau drama yang berisik, tetapi justru lewat perasaan yang dipendam dan suasana yang sering terasa sunyi. Keheningan di antara Suhita dan Gus Birru kadang justru terasa lebih menyakitkan daripada kata-kata yang diucapkan secara langsung. Ada jarak yang jelas di antara mereka, meskipun secara status mereka sudah menjadi suami dan istri. Penulis menggambarkan ketegangan itu dengan cara yang halus. Kadang hanya lewat percakapan yang singkat, sikap yang datar, atau momen ketika mereka saling berhadapan tetapi terasa canggung. Dari hal-hal kecil seperti itulah pembaca bisa merasakan betapa rumitnya hubungan mereka. Suasana yang tenang justru membuat perasaan para tokohnya terasa lebih dalam, sehingga pembaca dapat ikut merasakan kesedihan, kebingungan, dan harapan yang mereka alami dalam perjalanan rumah tangga mereka.

     Tak lupa, latar kehidupan pesantren dalam novel ini juga terasa digambarkan dengan sangat jelas dan hidup. Penulis menunjukkan bagaimana tradisi dalam keluarga kiai, tata krama dalam bersikap, serta nilai-nilai yang dijaga di lingkungan pesantren menjadi bagian penting dalam kehidupan para tokohnya. Sikap saling menghormati, menjaga adab, dan menjunjung tinggi nama baik keluarga terlihat kuat dalam setiap interaksi yang terjadi di dalam cerita. Hal-hal tersebut membuat pembaca bisa membayangkan suasana kehidupan pesantren yang penuh dengan aturan, kebiasaan, dan nilai moral yang sudah lama dijaga. Meskipun latarnya cukup kental dengan nuansa pesantren, cara penyampaiannya tetap terasa ringan dan mudah diikuti. Penulis tidak menjelaskan hal-hal tersebut dengan cara yang rumit, sehingga pembaca yang belum familiar dengan kehidupan pesantren pun tetap bisa memahami suasananya. Dengan begitu, pembaca tidak hanya menikmati alur cerita, tetapi juga bisa sedikit mengenal bagaimana kehidupan di lingkungan pesantren yang penuh dengan nilai kesopanan, kedisiplinan, dan rasa hormat terhadap sesama.

     Bahasa yang digunakan dalam novel ini juga memiliki ciri khas tersendiri. Penulis menggunakan gaya bahasa yang dipengaruhi oleh nuansa budaya Jawa yang halus, sopan, dan terasa puitis. Pilihan kata yang digunakan sering kali terdengar lembut dan penuh makna, sehingga mampu menggambarkan perasaan para tokohnya dengan cukup dalam. Meskipun ada sentuhan budaya Jawa di dalamnya, bahasa yang dipakai tetap terasa sederhana dan mudah dipahami oleh pembaca dari berbagai latar belakang. Adapun beberapa filosofi jawa yang diselipkan penulis diantaranya adalah kata tebu yang bermakna anteb ing kalbu (kemantapan hati), kata kantil yang bermakna kanthi laku (dengan usaha), juga peribahasa Jawa yang berbunyi mikul dhuwur mendhem jeru (memikul tinggi-tinggi dan menanam dalam-dalam) yang bermakna menjunjung tinggi kebaikan atau kehormatan orang lain (khususnya orang tua atau pasangan) dan menutupi rapat-rapat aib atau kekurangan mereka. Selain filosofi dan peribahasa Jawa, penulis juga memberi sentuhan penokohan dalam cerita pewayangan, seperti tokoh Dyah Suhita (yang menjadi inspirasi nama tokoh utama) seorang ratu di era Majapahit yang tabah saat dihadapkan dengan perang paregreg, Ekalaya yang merupakan salah satu tokoh dalam kisah Mahabharata yang terkenal dengan dedikasi, semangat kemandiriannya dan kisah pengorbanannya di mana ia memotong ibu jari kanannya sebagai guru daksina (persembahan atau biaya pendidikan) atas permintaan Gurunya, Resi Drona. Nuansa budaya Jawa yang sangat kental tersebut membuat cerita terasa lebih segar dan autentik, di mana penulis sangat cerdas dalam menggabungkan antara sastra pesantren dan kebudayaan Jawa seperti Majapahit, sehingga membuat pembaca seolah-olah benar-benar sedang berada di dalam lingkungan yang diceritakan dalam novel tersebut. Dengan cara ini, penulis berhasil menghadirkan cerita yang tidak hanya menarik, tetapi juga memiliki kedalaman rasa dan suasana yang kuat.

     Dalam novel ini, agaknya kesabaran menjadi salah satu nilai yang paling kuat terlihat dalam perjalanan ceritanya. Tokoh Suhita memperlihatkan bahwa bersabar bukan berarti lemah atau hanya pasrah menerima keadaan. Sebaliknya, kesabaran justru menjadi kekuatan yang membuatnya mampu bertahan dalam situasi yang tidak mudah. Ia tetap menjalani pernikahannya meskipun harus menghadapi sikap suaminya yang masih terasa jauh dan belum sepenuhnya menerima dirinya. Suhita tidak memilih untuk melawan dengan kemarahan atau memperkeruh keadaan. Ia lebih banyak menunjukkan sikap tenang dan tetap berusaha menjalankan perannya sebagai seorang istri dengan baik. Walaupun sering kali hatinya merasa sedih dan kecewa, ia tetap mencoba memahami keadaan yang sedang terjadi. Baginya, menghadapi masalah dengan kepala dingin jauh lebih baik daripada memperbesar konflik. Melalui sikapnya itu, Suhita percaya bahwa perasaan seseorang bisa berubah seiring berjalannya waktu. Ia meyakini bahwa ketulusan, kesabaran, dan sikap yang baik suatu saat dapat meluluhkan hati Gus Birru. Keyakinan inilah yang membuatnya terus bertahan dan tetap berjuang menjaga rumah tangganya, meskipun jalannya tidak selalu mudah.

     Selain Suhita, perkembangan karakter Gus Birru juga menjadi bagian penting dalam cerita ini. Perubahan yang terjadi pada dirinya digambarkan dengan cukup realistis dan tidak terasa dipaksakan. Di awal cerita, Gus Birru masih terlihat menjaga jarak dan belum sepenuhnya menerima Suhita sebagai istrinya. Sikapnya yang dingin dan cenderung tertutup menunjukkan bahwa ia masih terikat dengan kenangan masa lalu yang belum benar-benar ia lepaskan. Seiring berjalannya waktu, perlahan sikap Gus Birru mulai berubah. Perubahan itu tidak datang secara tiba-tiba, tetapi terjadi melalui berbagai peristiwa yang mereka lalui bersama. Kesabaran dan ketulusan Suhita membuat Gus Birru mulai melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Ia mulai memahami perasaan Suhita dan menyadari bahwa perempuan yang selama ini ada di sampingnya memiliki ketulusan yang besar. Proses perubahan yang berjalan secara perlahan ini membuat cerita terasa lebih nyata. Pembaca dapat melihat bahwa perubahan perasaan seseorang memang membutuhkan waktu dan proses. Karena itu, perjalanan emosional dalam cerita ini terasa lebih masuk akal dan tidak terkesan dibuat-buat.

     Seperti yang sudah aku sampaikan di awal tadi, menurutku hal menarik yang membuat novel Hati Suhita terasa berbeda dari banyak buku romansa yang pernah kubaca adalah cara penulis menggabungkan unsur budaya pesantren dengan sentuhan sejarah Jawa. Jika biasanya novel cinta hanya berfokus pada hubungan antara dua tokoh utama, dalam buku ini pembaca juga diajak melihat latar budaya yang lebih luas. Kehidupan pesantren dengan nilai-nilai religius, tata krama, dan tradisi keluarga kiai menjadi bagian penting yang membentuk karakter para tokohnya. Selain itu, novel ini juga menghadirkan unsur sejarah Jawa yang memberi makna lebih dalam pada ceritanya, seperti nama “Suhita” yang terinspirasi dari tokoh ratu dalam sejarah kerajaan Majapahit. Tokoh tersebut dikenal sebagai sosok perempuan yang kuat dan bijaksana, di mana ketika masa kepemimpinannya ia harus tabah dalam menghadapi perang paregreg. Pemilihan nama ini terasa simbolis, karena karakter Suhita dalam buku ini juga digambarkan sebagai perempuan yang sabar, teguh, dan memiliki kekuatan hati dalam menghadapi berbagai ujian hidup. Perpaduan antara nilai religius dari dunia pesantren dan jejak sejarah Jawa kuno ini membuat cerita dalam novel tersebut terasa lebih kaya. Kisah yang ditampilkan bukan hanya sekadar romansa, tetapi juga membawa nuansa budaya dan sejarah yang kuat. Hal inilah yang membuat Hati Suhita terasa seperti sebuah gebrakan dalam sastra populer, karena mampu menghadirkan kisah cinta yang tetap berakar pada budaya, tradisi, dan sejarah.

     Kisah yang disajikan dalam buku ini pada dasarnya menggambarkan kisah tentang kesabaran, keteguhan hati, dan cinta yang tumbuh secara perlahan. Tidak ada nuansa kemewahan atau drama besar seperti kisah romansa pada umumnya. Justru, kekuatan buku ini terletak pada perjalanan emosi para tokohnya yang berjalan tenang, sederhana, tetapi terasa sangat dalam. Melalui kisah Suhita dan Gus Birru, pembaca diajak memahami bahwa cinta tidak selalu hadir dengan mudah dan tidak selalu langsung terasa indah sejak awal. Hikmah yang aku petik dari buku ini adalah ketekunan dalam mencintai seseorang bahwa, ketulusan dan kesabaran yang terus-menerus kita curahkan, pada akhirnya mampu membuat hati seseorang luluh seiring berjalannya waktu. Dan itu mengingatkanku juga pada kisah Ibnu Hajar Al-Asqalani, yang mengajarkan tentang kelemah lembutan pada akhirnya dapat mengalahkan batu yang begitu keras. Agaknya, di penghujung tulisan ini akan kuselipkan kutipan yang sangat bermakna yang telah kupilih sebagai penutup.

Seteguh apa pun aku bertapa, selama apa pun aku bersila merapal doa, sepanjang apa pun kulafalkan pinta, aku tak mungkin sampai pada pemahaman mengapa aku begitu mencintai Mas Birru.

~ Alina Suhita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *