Di malam yang sunyi, rindu menjelma angin
Menyusuri celah-celah langit
Membawa namamu seperti bisikan yang tak selesai
Bulan pun ikut menyelaraskan hening
Mengirim cahaya lembut
Yang jatuh tepat di ruang kosong dekat dadaku
Untuk kehadiranmu yang belum pulang
Ruang yang selalu menyediakan kursi
Rindu mengalir pelan
Seperti sungai yang mencari muara
Seperti aku yang mencari pulang
Jika malam adalah pintu
Maka namamulah yang berbisik dari balik engselnya
Meminta untuk kembali kutatap
Andai saja kau mendengar
Kau akan tahu
Ada lagu yang hanya hidup ketika aku merindukanmu
Dan malam-malam seperti ini adalah panggung paling sunyi
Tempat hati memanggilmu pelan
Namun tak pernah berhenti


One response to “Hujan di Dalam Jam Tangan”
Coba lebih berjarak lagi dari objek yang mau diangkat. Diksi sudah mulai banyak, ditambah bacaannya. Cobalah kulik puisi Jokpin lebih dalam. Bukankah kamu juga sudah mulai mengutip puisinya di tulisanmu? Coba bermainlah seperti Jokpin.